Kuawali tulisanku kali ini dari cerita Robinson Crusoe. Setelah mengalami pasang surut kehidupan yang drastis. Dia terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni di daerah karibia.
Di pulau itu dia tersadar bahwa tanpa society,... kekayaan, uang, emas tidak ada harganya. Tidak berarti sama sekali.
***
Suatu waktu Pramoedya menuliskan :
"Sejatinya dalam perikehidupan bersosial yang berlaku adalah sebuah asas, bagaimana caranya membuat iri tetangga...!"
Aku lupa dalam buku'nya yang mana. Meskipun tidak sama persis penulisannya, namun secara konteks kurang lebih sama.
Ahmad Tohari bercerita dengan judul : "Paman Doblo merobek layang-layang".
Paman Doblo seorang yang baik hati, begitu dikenal bahkan kalangan anak kecil. Begitu diangkat menjadi satpam. Sikapnya berubah 360 drajat. Orang-orang sampai tidak habis pikir, terutama anak-anak Paman Doblo yang dulu mereka kenal, kini menjadi begitu bengisnya.
Seseorang bercerita kepadaku :
Mana kala ada pemilihan kepala desa di suatu daerah. Ada dua calon, calon pertama bergambar singkong. Calon kedua bergambar jagung.
Keduanya punya tim sukses. Masing-masing menggelontorkan dana habis-habisan. Tim sukses terlihat begitu loyal dan setia. Siap menemani sampai mati sekalipun. Sebagaimana pengikut daimyo di era sengoku di Jepang sana. Ketika hasil pemilihan diumumkan. Dimenangkan oleh calon bergambar singkong.
Calon kedua bergambar jagung, ditinggalkan seorang diri. Tim sukses yang membelanya selama ini tidak ada satu pun yang membersamainya. Setelah mereka tahu, si calon kedua sudah tidak berharta.
Dia pun berjalan kaki pulang kembali ke rumahnya.
Tapi aku tidak mendalaminya. Membaca pun tidak selesai.
Warna dalam kehidupan bersosial itu tercatat dalam sejarah. Dan sejarah itu akan terus berulang.
Semenjak menyadari hal itu aku menyukai Karya Sastra realisme.
***
Di rumah ibu bapak-ku, warga desa.... berkenduri. Menurut mamak-ku hal ini sudah berlangsung semenjak mbah buyutku dulu. Generasi sudah hampir berganti. Mata rantai berikutnya adalah aku sendiri. Nampaknya aku bukanlah orang yang akan meneruskan tradisi - tradisi di kampungku.
Aku ingin menjadi seorang muslim yang baik semampuku. Mungkin tidak semua orang akan mengerti.
Kuingat-ingat hadits dari Hudzaifah ibnu Yaman. Sampai saat ini itulah yang aku pegang sebagai prinsip perikehidupanku.
Aku seorang diri, semuanya kelompok yang ada kuanggap sebagai sodara. Aku seorang diri menggigit akar pohon....sebagaimana tertulis secara tekstual dalam Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman. Sedang kedepannya aku pun tak tahu. Apakah tetap begini, atau ikut dalam salah satu kelompok yang ada. Aku tidak mau berkelahi atau saling serang sesama saudara. Semoga Tuhan Pencipta langit dan bumi memberiku petunjuk.
Yang ingin meneruskan tradisi itu juga bagus-bagus saja. Pun juga sebaliknya.
Banyak hal yang berubah di dunia ini.
Sejarah pun mencatat akhirnya Jepang pun memberlakukan era restorasi meiji.
Dalam perekonomian perubahan pun terus bergulir, dahulu orang memakai gold standar ... kemudian gold standard dikonvert ke US dollar melalui perjanjian bretton woods... kemudian perjanjian bretton wood dibatalkan dan diganti era fiat money.... entah apa yang akan terjadi berikutnya.
Seorang diri... ! mungkin aku akan tegilas habis oleh konsensus. Terlebih bila aku lemah secara finansial. Sedang aku tak pandai berbisnis. Tapi aku masih punya Tuhan Yang Maha Kaya.
Lagi Pramoedya pernah menuliskan :
"Manusia tanpa prinsip adalah manusia tengik....setengik tengiknya".
Dalam sebuah hadits yang lain pun dikatakan : Mereka yang memegang teguh agamanya ibarat memegang bara api.
Dalam catatan historis Rahmad Abdullah menjelaskan dalam bukunya berjudul wali songo :
Suatu ketika Sunan Bonang mengingatkan Sunan Kalijogo.
"Janganlah terlalu banyak berimprovisasi dalam berdakwah.... kelak dikemudian hari akan susah dikembalikan sebagaimana mestinya"
Dijawab oleh Sunan Kalijaga :
"Biarlah itu menjadi tugas generasi berikutnya.....!"
Tentu saja pertimbangan Sunan Kalijaga juga masuk akal. Dengan jumlah yang sedikit perlu improvisasi agar menjadi banyak, tidak punah dan bisa menang.
Entahlah .... benar dan salah biarlah Tuhan yang menilai.
Bilamana sampai masanya aku menjadi mata rantai tertinggi. Mohon maaf sekali saya tidak bisa ikut dalam berbagai tradisi. Yang sekiranya tidak sejalan dengan prinsip kehidupanku.
Monggo kalau tempatnya mau dipakai. Tapi saya tidak berpartisipasi.
Aku paham tidak akan banyak yang mau mengerti kondisiku.
Melalui tulisan ini aku harap ada secercah jalan tengah, sehingga bisa saling mengerti satu sama lain. Tanpa harus menyalahkan antara pilihan satu dan yang lainnya.
Aku ingin menjadi seorang muslim yang baik semampuku. Sampai maut menjemputku. Semoga Tuhan Pencipta Langit dan Bumi ridho kepadaku. Bilamana pilihanku salah atau keliru semoga Rabbul Izzati mengampuniku kemudian menunjuki-ku dan membimbingku kepada kebenaran.
Semisal ada lokalisasi, kemudian ada yang berdakwah di sana. Sekiranya bagi yang mampu, itu baik sehingga dakwah bisa menjangkau semua kalangan. Yang buruk bisa terbawa menjadi baik.
Namun sekiranya tidak mampu, lebih baiknya dihindari. Daripada malah terbawa menjadi buruk.
Dalam penilaian manusia persoalan itu akan menjadi perdebatan.
Hanya Tuhan pencipta Langit dan Bumilah yang mengetahui yang sebenarnya. Kedua pilihan tersebut bisa jadi benar di mata Rabbul Izzati. Begitu juga sebaliknya. Yang perlu kita lakukan adalah kita jujur kepada Rabbul Izzzati. Hanya diri kita dan Rabbul Izzati'lah yang mengetahui. Mana yang harus kita pilih.
Gusti kawulo Nyuwun Tulung...kawulo Nyuwun Petunjuk.
Sohar, Oman
Simon Dinomo