Bilamana tiba masanya aku hendak diambil pulang oleh Illahi Rabbi, semoga Dia mengambilku ketika Dia Ridho kepadaku. Dan dijadikan hatiku ridho pada segala apa yang telah Dia tetapkan untuk-ku.
***
Sejak waktu itu harapanku tidaklah muluk-muluk. Semoga masih diberi kesempatan bertemu bulan ramadhan, dan aku diberi kekuatan untuk beramal dan beribadah secara maksimal.
Tahun demi tahun berlalu. Bukankah itu sudah lebih dari cukup ?
Aku berterima kasih sekali senantiasa diingatkan bahwasanya dalam perikehidupan itu selalu tidak menentu. Boleh manusia merencanakan sesuatu dengan sedetail-detailnya. Akan tetapi pencipta manusia mempunyai kehendaknya sendiri.
Sebagai manusia hanya bisa berusaha untuk mencapai rencanya semaksimal mungkin, kemudian senantiasa berdoa dan memohon pertolongan dan petunjuk kepada pemilik dan penciptanya. Dan hasilnya adalah sesuatu yang selalu jadi misteri. Suka-suka pencipta manusia, dan pemilik dunia seisinya. Begitulah perjalanan kehidupan itu musti dijalani hari-harinya.
***
Hati manusia selalu berubah-ubah. Petunjuk itu selalu kuminta setiap saat. Setiap ketidakpastian dibarengi dengan kekhawatiran dan ketakutan. Setiap kekhawatiran membawa efek buruk bagi pikiran. Bila pikiran menjadi buruk pelan-pelan akan menjalar pada kesehatan.
Sudah semestinya segala sesuatu disandarkan pada pemiliknya.
Bila sudah bersandar pada pemiliknya apapun ketidakpastian yang mungkin terjadi di masa depan. Sudah barang tentu akan dibarengi dengan solusi yang paling pas. Baik dari arah yang masuk logika ataupun dari ranah yang tak disangka-sangka.
***
Tetanggaku adalah orang yang baik. Aku menghormatinya seperti aku menghormati ayahku sendiri. Dia juga memperlakukanku seperti anaknya sendiri.
Bahkan bisa jadi akan lebih mengutamakan aku dibandingkan anak kandungnya sendiri. Dan itu benar adanya. Semisal aku bertamu ke rumahnya, aku akan dijamu bagaikan seorang raja. Tentu saja demikian itu akan menjadikannya repot.
Dari situlah aku mulai menjaga jarak kepada beliau.
Suatu ketika beliau berkata kepadaku :
"Nak, kenapa kamu menjauh kepadaku....!
Bila aku ada salah kepadamu, bilanglah... Jangan menghindar dariku."
Beliau bilang ke temen-temennya.
"Aku tidak tahu mengapa tetanggaku ini menjauh dariku...!"
Aku menjauh karena cintaku kepada beliau. Dari kejauhan senantiasa aku angkat kedua tanganku. Aku berdoa kepada Illahi Rabbi. Agar memberikan keberkahan kepada keluarga beliau.
Meski beliau tidak pernah tahu, dan selalu beranggapan bahwasanya aku menjauh karena ada masalah.
Karena sekali lagi sodara...bilamana aku ada perlu, potensinya beliau itu akan lebih mendahulukan aku daripada anak kandungnya sendiri.
Aku mencoba untuk tahu diri. Sebagaimana dahulu ketika Abdurrahman bin Auf ditawari oleh sodaranya kaum Anshor. Beliau tidak menerimanya. Dan berusaha sendiri berdagang di pasar.
Hingga saat tulisan ini kubuat, aku masih main kucing-kucingan dengan beliau.
Pada suatu kesempatan saya diundang oleh salah satu jamaah masjid ke rumahnya. Aku hendak diperkenalkan dengan pembantunya yang baru. Dia sangat bersemangat untuk memperkenalkan pembantunya itu kepadaku. Karena dia bawa dari indonesia.
Namun permintaan beliau saya tolak.
Sebenarnya beliau agak kurang berkenan, tapi tetap aku pun bersikeras dengan keputusanku.
Aku lupa menanyakan apakah pembantu barunya itu laki-laki atau perempuan.
Namun hal itu rasanya tidak akan mempengaruhi keputusanku.
Cukup aku yang tahu alasannya. Karena aku cukup banyak membacai literasi berkenaan dengan karakter manusia indonesia.
Liwa, Oman
Rabu, 23 September 2026
Simon Dinomo
