Tepat di sebelah selatan sebelum turunan itu. Di bawah pohon trembesi yang besar itu. Semua keluargaku pernah berobat terapi disana. Aku, anak-anak'ku, istriku, ibuku, ayahandaku, mertuaku. Semuanya ... !
Di tempat itu aku menyaksikan betapa ujian perikehidupan manusia itu sangat beraneka ragam.
Pada titik kehidupanku yang terguncang pernah kubawa ibundaku seorang diri. Saat kebanyakan manusia meninggalkanku. Tempat itu menerimaku, dan mengobati ibundaku. Semoga Illahi Rabbi membalas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak lagi.
***
Waktu itu aku sedang menunggu di luar. Sambil duduk - duduk, kadang berdiri, kemudian duduk kembali. Mas Yudi datang menghampiriku.
Kami ngobrol beberapa saat lamanya.
Ternyata kami satu almamater. Beliau dari jurusan teknik sipil sedangkan aku dari jurusan kimia industri.
Bilamana aku datang kesana, selalu beliau sempatkan meski sebentar menghampiriku dan mengobrol denganku. Di sela sela jadwal kerjanya sebagai seorang pegawai instansi pemerintah.
Bisa dibilang aku habiskan 50 % masa cutiku kemarin di sana. Banyak jadwal kutinggalkan demi menyelesaikan berobat disana. Tempat kerjaku memfasilitasiku untuk berobat di rumah sakit. Fasilitas itu cukup memadai. Dengan standard yang cukup tinggi. Semuanya akan dibayar oleh perusahaan.
Meski harus membayar sendiri aku lebih memilih untuk berobat kesana. Fasilitas dari tempatku bekerja aku abaikan.
Pukul 09:00 biasanya kami berangkat. Terapi disana cukup memakan waktu. Normalnya paling tidak habis ashar baru pulang. Kadang kala malah pulang sehabis maghrib.
Titik demi titik ditusuk dengan jarum akupuntur. Kemudian dialiri dengan aliran listrik.
Dan sekarang aku sudah kembali di tempatku bekerja.
Tempat yang jauh, hampir delapan jam terbang dari jakarta.
Rabu, 28 Oktober 2026
Liwa, Oman

