Pada intinya rokok kretek tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pramoedya. Barangkali sosok pramoedya cukup berpengaruh pada penulis essay tersebut.
Karena itulah perlu kiranya orang-orang berterima kasih kepada H. Djamhari. Yang disinyalir sebagai penemu dari rokok kretek tersebut. Begitu kata penulis essay itu.
Masih lanjutan dari essay yang kubaca. Di Temanggung sana, dahulu sekali seseorang mencicipi sebuah daun. Yang setelah itu dia rasakan badannya menjadi lebih sehat dan lebih segar. Itu juga menurut penulis. Sehingga dia bergumam .... *Iki tambaku*. Secara harfiah dia bilang ini adalah obatku.
Dari kata tambaku seiring berjalannya waktu berubah menjadi tembakau.
Nah begitulah tiga essay yang aku bacai selama kurang lebih dua mingguan ini.
***
Di sela sela jadwal terapiku. Kusempatkan lagi untuk menulis.
Wuelook tenan.
Singkat cerita sampailah disana. Di check pakunya masih menancap dengan kencang.
"Mas... ban'nya musti dilepas dulu ini...!"
"Njih bapak, dilepas mawon, mboten nopo nopo..."
Dongkrak pun dipasang, kedua sisi ban diganjel. Rem tangan tak lepas dari sisi kemudi.
Paku itu menancap dalam posisi miring.
Udara mendesis saat paku ditarik keluar.
Effort'nya luar biasa dikarenakan posisi'nya yang miring melintang.
Butuh kira-kira sejam lamanya sampai semuanya beres.
Semua sisi ban sudah ditambah angin oleh si bapak.
"Pak pinten totale ....?"
Saya tertegun. Dengan effortnya yang seluar biasa itu. Beliau hanya memberikan tarif 20 ribu saja.
Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah. Membalas beliau dengan balasan yang lebih baik dan lebih banyak. Semoga Illahi Rabbi memberikan rizki yang melimpah dan berkah kepada bapak tukang tambal ban.
Bagaimana tidak, semisal di pom bensin saja. Untuk pompa satu roda dikenakan tarif 5 rb. Normalnya hanya untuk isi angin keempat roda mobil sebesar 20 ribu.
Oiya .... barangkali alasannya.
"Lha iya wong yang buat ngisi nitrogen jee....!"
****
Pertemuan saya dengan bapak tukang tambal ban itu, mengingatkan saya tatkala sedang berdiskusi bersama kawan saya Juragan Gurameh ST.
Mendengar itu, saya agak terkaget-kaget.
"Wueloook tenan .... 80 milyar gan ?"
Sudah begitu unitnya juga laku, tak perduli berapa pun harganya.
Yang jadi pikiran saya. Itu terus yang beli kerjanya apa kira-kira. Usahanya disektor apa. Dan gajinya berapa.
Semisal saya hitung pendapatan saya dari awal mulai bekerja sampai sekarang nampaknya juga tidak bakalan nyampe. Kejauhan untuk dipikir...!
Kemudian nalar saya yang mokal mokal menelusur lebih jauh. Terus itu kira-kira ngambil untungnya berapa. Semisal dengan luas bangunan yang terlihat di video youtube.
Masih menurut kawan saya juragan gurameh ST. Dia perkirakan ya maksimal pembangunannya habis 15 Milyar. Dia mentaksir margin keuntungan sebesar 65 milyar. Artinya 400 persen lebih.
Nah kalo bisa nyari model bisnis yang seperti ini....!
Begitulah Juragan Gurameh ST menyimpulkan.
"Lha piye... 400 persen margin jeee"
Seorang bapak-bapak berjalan menyusuri sawah dengan senter terpasang di kepalanya. Kepalanya menunduk mengikuti air yang mengalir di bawahnya.
Pompa air menyala menyemburkan air ke sawah.
Pompa itu beratnya kira-kira 35 kg.
Di musim ini sawah-sawah musti diariri setiap hari. Setiap hari pula pompa air seberat 35 kg itu musti dibopong bongkar dan pasang.
Dari cerita yang kudengar belum lama ini pompa air yang ditinggal disawah. Hilang di beberapa tempat sekaligus. dalam waktu yang bersamaan.
Gila ...memang, tapi begitulah realita yang ada.
Di jalan tengah sawah sebelah utara jalan yogya solo, banyak orang berjalan kaki dan berlari-larian.
Hari masih agak gelap.
Udara juga masih sejuk.
Rumput-rumputan masih berembun.
****
Kukira ipad air sudah bisa menggantikan laptop untuk kebutuhan harianku. Bagi sebagian orang mungkin memang bisa. Ternyata untuk-ku, tidak bisa.
Office berbasis cloud banyak fitur yang masih terbatas. Kemudian untuk sekedar menulis di blog, masih kurang proper meski sudah dikombinasikan dengan keyboard sekalipun.
Mau beli laptop sendiri, masih pikir-pikir budget.
Baiknya memang beli sendiri semacam windows berbasis arm dengan snapdragon rasanya sudah cukup.
Ya nantilah .... apakah itu hanya keinginan atau memang kebutuhan. Biar terjawab seiring berjalan waktu.
Kamis, 09 Oktober 2026
Prambanan, Klaten
Simon Dinomo

