Rabu, 02 September 2026

Mister Fire and Gas....!!!!

Waktu itu saya berjalan menuju kantin dari arah reaktor. 
Di sebelah instrument air compressor, aku menepi dan berhenti. Sebuah sepeda melintas di depanku. Dan berlalu begitu saja. 
Sepeda lain yang mengikutinya berhenti tepat di depanku. 
Dia menyapaku, memberitahuku bahwa bulan depan dia akan pindah ke Muscat. Mengakhiri masa pengabdiannya di tempat kerjanya yang sekarang. 

****
"Hello ...Good morning Mister Fire and Gas !"

Awal perkenalan dulu saya pernah menanyakan namanya. Apalah daya kini , kapasitas otak'ku yang sudah makin tua ini, sekedar mengingat nama saja begitu susahnya. 
Bertahun tahun lamanya, bilamana saya masuk kerja pagi. Kami sering bertemu dan selalu saya memanggilnya .... Mister Fire and Gas. 
Dia pun tersenyum dan aku yakin dia sama seperti saya. Dia tidak ingat namaku. Karena juga tidak terlalu penting untuk mengingat namaku. 

Satu tahun terakhir ini, saya beranikan diri untuk menanyakan lagi namanya. 
Dalam kurun waktu satu hari saya lupa lagi. 
Akhirnya saya cari dalam dokumen permit, ketemulah namanya : VINAYK. 
Semenjak itu aku selalu menyapanya dengan nama asli yang sebenarnya. Kemudian dia pun menanyakan lagi namaku. 
Dipikir-pikir dahsyat juga teori Dale Carnegie. 
***
Sejatinya dia berpamitan juga karena kebetulan saja. Meskipun hanya sebagai suatu kebetulan. Tetap hal ini adalah sesuatu yang bernilai. Setidaknya interaksi kami yang bertahun-tahun lamanya kami jalin dengan baik. 

Sampai jumpa lagi Mister Fire and Gas....eh Mas Vinayk.
Kosong-kosong Yaaaa...!

***
Menurut kawanku, suasana sosial politik di tempat kerjaku sedang mengalami turbulensi yang tidak menentu.  Ketakutan akan masa depan menjadi topik warung kopi. 
Bukankah masa depan itu senantiasa akan jadi misteri ? Sama seperti kematian. Tidak ada yang tahu, akan tetapi alangkah baiknya bila dipersiapkan sejak dini. 
Karena rasa takut itu ada sedikit perubahan paradigma di kalangan komunitas. 
Dahulu orang seperti'ku yang hanya membeli kendaraan ala kadarnya. Semurah mungkin. Atau kawanku yang lain yang memilih untuk tidak membeli kendaraan. 
Kami ini berpotensi akan diperbincangkan di warung kopi. Di bully dan sedikit direndahkan. 
Namun kini, opini publik itu bisajadi akan bergeser. 
"Wah bisa jadi pilihanmu masuk akal ...!"

Buruh itu sodara, layaknya kuda. 
Yang menggeret kereta, yang diberi beban. Semakin lama beban itu ditambah sedikit demi sedikit. Bilamana si kuda capek, mulai lelah, mulai pelan jalannya. 
Maka dicambuklah kuda itu dengan kerasnya. 
"Hiyah...hiyah...hiyaa...!"
Lama-lama si kuda akan menyadari kok bebannya semakin berat. Tapi dia bingung, tidak yakin dengan prasangkanya sendiri. Karena dia hanya bisa melihat lurus kedepan, tidak bisa melihat ke samping atau menoleh kebelakang. 
Itulah kenapa kuda itu diberi kacamata. Yang dikenal sebagai KACAMATA KUDA.

Begitulah tuan-tuan sekalian,  menurut buku yang pernah aku bacai. 

****
Sampai saat ini aku masih berbahagia dengan statusku sebagai buruh. 
Beban boleh ditambah sampai batas maksimal fisik dan psikis yang aku punya. 
Aku masih punya Tuhan Semesta Alam. Yang punya Langit dan Bumi dan segala isi di dalamnya. 
PadaNya aku berserah diri dan memohon pertolongan. 

Matur nuwun Gusti. 
Matur nuwun Tempat Kerjaku. 

***
Semasa mudaku dahulu. Kala itu mungkin umurku baru 20 tahun'an. Aku catat dengan rapi di buku harianku. Cash Flow Quadrant dari Robert Kiyosaki. 
Aku tulis di papan kamar kos'ku. 
Bilamana ada kesempatan aku pun akan menjadi investor, begitu kataku dalam hati. 
Tahun 2015'an kesempatan itu datang. Waktu untuk mengeksekusi telah tiba. 
Bersamaan dengan itu kuselesaikan buku muamalat kontemporer karya Erwandi Tarmidzi. Dengan mengharapkan ridho dari Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Kaya, Yang Maha Pengasih dan Penyanyang, Yang Maha Segala-galanya. Akal'ku, ego'ku, jiwa mudaku,  aku kesampingkan. 
Aku pilih pendapat beliau terkait investasi. 
Dari buku-buku kontemporer terkini, semisal Psikologi of money. Polanya sebenarnya hampir sama dengan ajaran Robert Kiyosaki. 
Aku masih berdiri dengan pilihanku. Dan memilih jalur yang masih konservatif. 
Berulang kali aku gagal, berulang kali aku dikhianati. 
Aku tetap bahagia. 
Sambil terus berusaha sebisa'ku. 
Tidak lupa setelahnya aku bersandar pada Tuhan Semesta Alam, Yang Maha Baik. Yang Maha Segala-galanya. 
Dengan bersandar pada Illahi Rabbi, setelah berusaha sebisaku ini. Aku songsong masa depan yang masih jadi misteri. 

Selasa, 01 September 2026
Sohar, Oman
Simon Dinomo



Tidak ada komentar:

Posting Komentar