Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo
Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo
Depress Cylinder sampai 0.2 bar ke seal pot.
Idea/pointnya :
- Karena pressure di seal pot adalah 0.2 bar, mk depressnya hanya sampai 0.2 bar.Sewaktu cylinder kosong, sewajarnya akan terisi oleh nitrogen. Dan pressure nitrogen adalah 4.5 bar.
Maka sebelum diganti perlu di dipress dulu ke seal pot.
Valve yang ke Dip Pipe di tutup, juga yang ke arah DC/T3 tank, juga valve upstream nitrogen.
Lalu release cylinder pressure dari nitrogen line ke seal pot via by pass.
Press up line circuit dengan MO sampai maksimal 4.5 bar.
- Flash ke cylinder via dip pipe dan nitrogen line masing-masing 2 sampai 3 kali.
- Setelah itu flash circuit line dengan menggunakan nitrogen ke seal pot dari 4.5 bar ke 0.2 bar.
- Empat sampai lima kali, sampai dirasa semua MO habis tak bersisa di dalam circuit.
System siap di buka.
- Ada yang membuang sisa pressure via nitrogen vent line.
- Group yang lain, ada yang membuka tanpa membuang sisa pressure. Dengan asumsi pressure yang tersisa hanyalah 0.2 bar.
Pertimbangannya kalau sampai release pressure ke vent line. Akan ada oksigen trap di dalam system.
Yang kemudian dari data statistic akan mempengaruhi activity daripada T3 dan DC.
Meski begitu ada group yang masih menggunakan release pressure ke nitrogen vent line, ada juga yang tidak.
Disconnect cylinder lama dan connect cylinder baru.
Sebagian group akan melakukan oksigen free via nitrogen vent line dari 4.5 ke atm.
Sebagian group melakukan oksigen free dengan nitrogen ke seal pot dari 4.5 bar ke 0.2 bar.
Line up normal cylinder ke tank.
Final element FV 0239 diatur oleh dua controller berbeda.
Antara FC 0239 dan PC 0493 disediakan sebuah selector dengan opsi OP yang lebih besar.
Lebih jelasnya bisa dilihat pada diagram di bawah ini :
Fraksi berat itu adalah ICA.
Bagaimana caranya ?
- Condensing mode dari dry mode :
- 1. ICA control valve dinaik-kan untuk menambah jumlah ICA di reactor. Ketika ICA naik kita sudah punya amunisi yang bisa dijadikan menjadi droplet. Efeknya dew point temperature akan naik.
Efek lainnya naiknya ICA akan menjadi gas reactor semakin berat yang artinya SGV/kecepatan gas akan turun. Ketika kecepatan gas turun residen time contact dengan cooler naik, sehingga temperature turun.
- 2. Total Catalyst dinaik-kan. Saat dinaik-kan jumlah ethylene rate akan ikut naik. Ketika Ethylene naik, gas akan menjadi semakin berat. Efeknya SGV (Kecepatan gas) akan semakin turun lagi dengan lebih maksimal.
Ketika SGV/kecepatan gas turun, residen time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih lama. Efeknya adalah temperature inlet reactor akan turun dengan lebih maksimal.
Dari action 1 dan 2 akan tercapai dimana dew point temperature akan lebih tinggi dari pada temperature inlet reactor.
Untuk menjadikannya lebih optimal perbedaan dew point temperature vs temperature inlet reactor perlu dilakukan action lanjutan.
- 3, IGV diturunkan. Efeknya SGV/kecepatan gas akan makin turun lagi. Efeknya residen time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih lama lagi. Efeknya temperature inlet reactor akan semakin turun.
Targetnya adalah Nilai Dew Point temperature - inlet reactor temperature = 7-10 drajat celcius.
- 4. ada step satu lagi yaitu menurunkan RO dengan tujuan meningkatkan aktivitas catalyst.
Saat SGV/kecepatan gas naik, residence time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih cepat. Efeknya adalah temperature inlet reactor akan menjadi naik.
Saat SGV/kecepatan sudah mulai naik. Masih ditambah lagi IGV (Inlet Guide Vane) Cycle Gas Compressor dinaik-kan. Efeknya SGV tambah naik lagi. Sehingga kenaikan temperature inlet reactor semakin optimal.
Hanya saja kenaikan temperature ini akan terbatas karena reaksi di dalam reactor juga berkurang.
Karenanya musti dimaksimalkan dari segi penurunan temperature dew point inlet reactor dengan cara sbb :
- 2. Bersamaan dengan action no. 1 dilakukan ICA removal dengan cara stop supply ICA ke reactor Output control valve ICA dibuat nol persen. Masih dibarengi dengan flaring recovery liquid dan manual valve yang ke cycle gas di tutup.
Efeknya droplet gas akan menjadi berkurang dan hilang karena amunisi yang bisa dirubah yaitu ICA sudah tidak ada. Secara otomatis dew point temperature akan menjadi turun sangat drastis.
Dew point temperature turun artinya kemungkinan untuk terjadi droplet kecil bahkan tidak mungkin, karena reactor inlet temperature lebih tinggi.
Action yang terakhir yang dilakukan adalah :
- 3. RO kill : yaitu output control valve RO dibuat 100 % open selama 5 menit. Hal ini berfungsi untuk menonaftifkan catalyst. Efeknya dengan memastikan catalyst non aktif seteleh total catalyst diturunkan secara extreme. Maka ada dua efek yang ditimbulkan. Pertama ethylene flow akan turun drastis. Berkurangnya flow ethylene memberi efek kenaikan temperature krn fresh ethylene berkurang. Kemudian efek yang lain dengan berkurangnya ethylene gas akan menjadi lebih ringan, bila gas lebih ringan kecepatan akan semakin tinggi. Bila kecepatan semakin tinggi residen time akan semakin cepat sehingga temperature reaktor inlet akan naik.
Ketika Dew point inlet reactor sudah lebih rendah dari pada TI-0446 maka saat itu reactor sudah memasuki dry mode.