Senin, 30 Juni 2025

Reactor Peripheral (Feed Stream, Purge Header, E Nozzle, Venturi) ..... !

 





Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

Teal System ... !

 






Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

Dumping, Oksidasi, Vacuuming System .... !

 





#### Langkah-langkah dumping Catalyst #####
  1. Depress Catalyst Feeder sampai 3.5 bar. 
  2. Connect Line dumping ke Empty Cylinder. Pastikan sudah dilakukan Oksigen Free dengan menggunakan Nitrogen dari ground Floor. 
  3. Press Up Empty Cylinder untuk mencegah Oksigen masuk ke dalam Cylinder. 
  4. Connect Empty Cylinder ke Vent Filter. Jangan lupa dilakukan Oksigen free area hose.
  5. Line Up dumping system ke empty cylinder. Buka Nitrogen yang ke Cat feeder untuk menjaga press tetap di 3.5 bar. 
  6. Tunggu sampai habis via side glass. 
  7. Isolate system dan disconnect hose.

Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

Cycle Gas Compressor & Cycle Water Pump System ... !

 





Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo


Dry Catalyst System... !








Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

VRS System.... & Refigerant & Actual Lay Out !

 









Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo




Ucat-J System ... & Actual Lay Out !

 






Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

BMC System ...!

 






Senin, 30 Juni 2025
Simon Dinomo

Kamis, 26 Juni 2025

Sekarat....!

Cuaca terasa semakin panas. Buah kurma bergerandulan di pohon-pohon berdompol dompol. Di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakan buah mangga. Di jual dengan box kayu. Isinya berkisar 5 kg setiap box. Aneka jenis mangga dicampur dalam satu box itu. 
Mangga lokal memiliki banyak type dengan rasa yang berbeda-beda. Masa dimana rutop atau kurma muda begitu mudah ditemui. Rasanya yang renyah dan legit kadang disertai sepet sepet sedikit. Ah sodara... nikmat sekali rasanya. 
Alhamdulillah, matur nuwun gusti. 

***
Di sebelah utara sana tensi emosi juga makin panas. Rudal balistik beterbangan di udara. Menghantam bangunan, meledak di udara seperti kembang api. 
Bulan-bulan ini musim panas sedang merangkak menuju puncaknya. 

Hawa panas dan humidity tahun ini hampir merenggut nyawaku.  Ketika berdiri agak lama rasanya seperti mau terjatuh. Kukira hanya karena cuaca yang baru extrim saja. Humidity'nya begitu besar, sekedar bernafas normal saja begitu berat. Ternyata tubuhku sudah dehidrasi. 
Semakin lama aku tak lagi mampu berdiri. Aku pun rebahan. 
Perlahan tangan dan kaki-ku mulai mati rasa. Kemudian menjadi kaku tak bisa kugerak-kan. 
Rasa dingin menjalar dari ujung kaki dan tanganku, bergerak dengan perlahan. 
Saat hawa dingin itu sampai diperutku, seketika terasa mengkerut dan tertarik ke atas. 
Hawa dingin itu terus menjalar ke arah kepala. 
Apakah aku akan mati kali ini ? Pikirku kala itu. 
Kusebut Alloh sebanyak yang aku mampu. 

Kawan-kawanku membopongku. 
Pikiranku sudah mulai remang-remang ke arah gelap. Kawan-kawanku memberiku air. 
Sampai di klinik aku diberi infus. Pelan pelan dimulai dari tangan dan kaki yang sebelah kiri mulai membaik. Berlanjut ke kaki dan tangan sebelah kanan secara perlahan.
Alhamdulillah... matur nuwun Gusti. 
Masa depan memang selalu jadi misteri. 
Kali ini Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyanyang masih memberiku kesempatan lebih panjang untuk hidup di bumi'Nya ini. 
Semoga bisa beribadah lebih maksimal kepadaNya. 

***

Proteksi IT di tempatku bekerja kini semakin ketat, hal yang wajar untuk sebuah perusahaan besar. Progress digitalisasi dari ilmu yang aku dapat agak sedikit ribet. 
Langkah ini aku ambil, mengingat potensi hilang bila aku simpan dalam wujud kertas sangat besar. Sedang effort yang aku keluarkan untuk menggores gambar demi gambar begitu besar. 
Sejak lama sebenarnya aku ingin mengambil langkah ini, tapi aku enggan lantaran kerahasiaan data yang ada. Aku pikir ulang dan pertimbangkan lagi beberapa kali. Semuanya adalah gambarku sendiri, harusnya tiada mengapa. 

Dahulu pernah aku gambar tentang Cold Box dan Propylene Compressor yang sangat berharga. Kini gambar itu hilang tak bersisa. 
Gambarku di perusahaan elastomer besar itu pun masih ada aku simpan. Semua itu adalah masa lalu, berharga untuk dikenang. 

Sedang gambar-gambarku yang sekarang masih aku gunakan untuk bekerja. Harus aku tata, agar bisa aku gunakan sebaik mungkin. 

Akan aku usahakan memberikan 100 % yang aku miliki di tempat ini, tempatku kerjaku yang sekarang, yang oleh Tuhan Pemilik Langit dan Bumi dijadikan sebagai tempat yang memberiku kehidupan. 
Selamat datang digitalisasi ilmu.....! 
Pelan-pelan ...sedikit demi sedikit akan aku usahakan semampuku. 



Liwa, Oman
Kamis, 26 Juni 2025
Simon Dinomo


Minggu, 08 Juni 2025

Extruder .... !

Extruder From PPB to Silo :



Extruder Overview : 
 


Extruder Detail : 









Extruder Logic : 









File Project, 08 Juni 2025
Sohar, Oman
Simon Dinomo

Reactor PE-2....Naratif !


  • Thermoblaster : 
    Adalah suatu kalkulasi untuk SGV dan Dew Point. 
    Kalkulasi ini menggunakan excel sheet dengan mengambil data reading dari sensing element di DCS. Kemudian di proses secara terpisah di controller/Marshalling dan hasilnya akan ditampilkan balik ke DCS. 
    Ingat thermoblaster hanya  untuk SGV dan Dew Point. 

  • Hubungan antara IGV, SGV, Flow Reactor, dan catalylst injection. Data sementara...!
    Saat catalyst terinject dan reaksi berjalan lancar. 
    Bila IGV naik, SGV dan flow akan turun. Bertolak belakang. 
    Saat tanpa catalyst (Tidak ada injeksi catalyst, atau catalyst kecil atau turun drastis)
    Bila IGV naik, SGV dan flow akan naik. Berbanding lurus / Proporsional. 

    Penting pelu diingat : 
    IGV berbanding terbalik dengan Reactor Flow/Ventury.

  • ICA dan Nitrogen adalah sama-sama inert. 
    Pada saat dry mode inert reactor menggunakan nitrogen. 
    pada saat condensing inert diganti dari nitrogen ke ICA

  • Cara mengganti DC/T3 Cylinder : 
    1. Depress Cylinder sampai 0.2 bar ke seal pot.
      Idea/pointnya : 
      Karena pressure di seal pot adalah 0.2 bar, mk depressnya hanya sampai 0.2 bar.Sewaktu cylinder kosong, sewajarnya akan terisi oleh nitrogen. Dan pressure nitrogen adalah 4.5 bar. 
      Maka sebelum diganti perlu di dipress dulu ke seal pot.
      Valve yang ke Dip Pipe di tutup, juga yang ke arah DC/T3 tank, juga valve upstream nitrogen.
      Lalu release cylinder pressure dari nitrogen line ke seal pot via by pass.

    2. Press up line circuit dengan MO sampai maksimal 4.5 bar.
      Flash ke cylinder via dip pipe dan nitrogen line masing-masing 2 sampai 3 kali.
      Setelah itu flash circuit line dengan menggunakan nitrogen ke seal pot dari 4.5 bar ke 0.2 bar.
      Empat sampai lima kali, sampai dirasa semua MO habis tak bersisa di dalam circuit.

    3. System siap di buka.
      Ada yang membuang sisa pressure via nitrogen vent line.
      Group yang lain, ada yang membuka tanpa membuang sisa pressure. Dengan asumsi pressure yang tersisa hanyalah 0.2 bar.
      Pertimbangannya kalau sampai release pressure ke vent line. Akan ada oksigen trap di dalam system.
      Yang kemudian dari data statistic akan mempengaruhi activity daripada T3 dan DC.
      Meski begitu ada group yang masih menggunakan release pressure ke nitrogen vent line, ada juga yang tidak.

    4. Disconnect cylinder lama dan connect cylinder baru.
      Sebagian group akan melakukan oksigen free via nitrogen vent line dari 4.5 ke atm.
      Sebagian group melakukan oksigen free dengan nitrogen ke seal pot dari 4.5 bar ke 0.2 bar.

    5. Line up normal cylinder ke tank.

  • Cara mengganti DC/T3 versi Pak Hasir : 
    1. Depress Cylinder via dip pipe ke seal pot. Nitrogen ke cylinder di isolate. 
      Sampai press 0.2 bar. 
    2. Tutup Nitrogen ke cylinder dan dari dip pipe ke system. 
      Flash MO ke circuit. Sampai pressure 4.5 bar. Kemudian vent ke seal pot. 
      Flash Nitrogen ke circuit via by pass. Sampai 4.5 bar kemudian vent ke seal pot. 
      Ulangi sampai beberapa kali flash nitrogennya. 
      Ulangi dua atau tiga kali MO injection. 
      Kemudian flash pake nitrogen dengan metode yang sama. Sampai MO yang tersisa di circuit minimal. 
    3. Setelah yakin MO di sirkuit minimal. Flash dengna nitrogen ke cylinder via nitrogen line dan dip pipe line. Sekali atau dua kali saja. 
    4. Vent ke atmosphere untuk zeroing pressure. 
      Setelah itu disconnect cylinder. 
    5. Setelah itu Press up dan leak check. 
      Bila semua OK normalizing line up. 

  • Cara Connect Percusor Cylinder versi pak Hasir : 
    1. Connect kedua hose. 
    2. Vent ke atm
    3. Bubbling pake nitrogen ke dip pipe. 
    4. Line up nitrogen ke cylinder dan open yang ke system. 
    5. Monitor pressure dan tunggu sampai habis. 

  • Cara disconnect precursor cylinder versi pak hasir : 
    1. Tunggu pressure ngedrop. 
    2. Tutup valve nitrogen ke cylinder. 
      Tunggu pressure sampai drop. Setelah drop. 
      Tutup valve dari dip pipe ke system. 
      Buka nitrogen ke system kemudian tutup nitrogen. 
      Buka lagi ke arah system. Lihat pressure drop. Kalo masih lama ulangi lagi sampai beberapa kali untuk menyakinkan sisa precursor yang di cylinder benar benar habis. 
    3. Bila indikasi pressure sudah rendah dan steady. Tutup yang dari dip pipe ke system juga nitrogen ke cylinder. 
    4. Flash pake nitrogen upstream. 
    5. Disconnect cylinder
  • Pocket Nitrogen range'nya 0-3. Total ada 15 strip. 
    0 - zero person open
    1- lima strip-tiga puluhan persen open
    2-sepuluh strip-enam puluhan persen open
    3-lima belasan strip-sembilan puluhan persen (anggap saja seratus lah)

    ### Pocket Nitrogen berfungsi untuk mengoptimalkan filling efisiensi. 
  • Aneka Problem di PDS : 
    • Trouble shooting PDS : 
      Problem di PDS biasanya berupa instrument air yang bocor, XV tidak mau buka atau nutup. Selenoid problem, dll. 
      Selanjutnya yang lebih sering adalah reducer yang ngeblok. 
      Apa yang harus dilakukan bila ngeblok : 
      Pertama : sebul PBT dan PC dengan nitrogen hose dari bawah. Tujuannya agar powder yang berada di dalam tidak compact. 
      Valve H dan L akan dibukan secara manual oleh Panel. 
      Proses penyebulan ini dilakukan sampai reducer sudah selesai di cleaning dan siap dipakai. 
      Kedua : Purging reducer line, pasang hose nitrogen. Venting ke atmospher. Lakukan beberapa kali. Biarkan venting ke atmospher tetep buka. Dan biarkan mekanik bekerja sesuai tugasnya. 

    • Apa itu Cross Tie : 
      Fasilitas Cross Tie PDS yaitu valve W dan X. Fungsi utamanya adalah agar gas hidrocarbon tidak terbuang.
      Misalkan ketika powder drop ke PC PDS 1, hydrocarbon akan ditampung di PC PDS 2. Ketika PDS 2 gantian yang drop poweder dari reaktor. Gas Hydrocarbon itu akan dikembalikan ke reaktor melalui valve G. 
      Sehingga hydrocarbon yang terbuang dari reaktor akan diminimalisir. Artinya gas komposisi akan lebih terjaga, efisiensi akan lebih baik. Conversi dari ethylene/hydocarbon menjadi polymer menjadi lebih optimal. 
      Hal yang sama untuk valve X, hanya saja lokasinya di PBT. 

    • Data tambahan :
      • Q switch PDS : auto/off (lokasi di lapangan)
      • T switch PDS : manual/auto (Lokasi di DCS)
      • S switch PDS   : auto / stop / start (Lokasi di DCS )
      • ZSL : close
      • ZSH : open
    • Sequence PDS : 
      • Idle : Valve A, C open.
      • PC drop : A, B, G open
        • PC cross tie opsi 1 : B, W open
        • Cross tie opsi 2 sekalian langsung drop PC ke PBT : B,W,H,D open
      • Drop PC to PBT : H, D, A, C open
      • Cross tie PBT : X, A, C
      • Tranfer from PBT to PPB : J, E, A, C open
    • Bagian-bagian valve PDS : 
      • Regulator
      • Selenoid
      • Pilot valve/orbit
    • Ketika PDS valve bermasalah, misalnya posisi'nys in between. Sequence cycle akan terhenti. Yang bisa dilakukan di lapangan hanyalah memastikan valve PDS dapat feedback open/close. 
      Misalnya saja, tutup IA. Kemudian minta panel untuk open/close manual. Dimungkinkan semua pressure tersisa di downstream seloid akan menjadi zero. Secara logika akan ada satu posisi yang tercapai entah itu open atau close tergantung desain. 
      Saat Sequence PDS berhenti. Sequence akan menyelesaikan cycle komplitnya dan kembali ke posisi stand by. Dng posisi Valve A, C open sedang yang lain close. 
      Saat yang sama, DCS akan merubah operation mode ke manual dan melakukan Nitrogen purge di PBT. Di lapangan pun juga sama hal yang harus dilakukan adalah mengkonek Nitrogen hose di cone PC dan PBT. Blowing ini bertujuan agar powder yang ada di dalam PC atau PBT tidak terjadi aglomerasi. 
      Nitrogen purging ini berlangsung sampai masalah diatasi oleh mekanik atau intrument. 
    • Cleaning PDS reducer. 
      • Hal - hal yang harus dilakukan :
        • Close IA di valve PDS E
        • R valve posisikan ke off
        • Install Nitrogen hose, open vent ke atmosphere beberapa kali untuk mengurangi hidrocarbon content. Setelah itu hand over ke maintenance untuk dibuka. 
  • Valve di E nozzle : 
    Harus di tutup sebelum Cycle Gas Compressor di stop. 
    Dan dibuka setelah Cycle Gas Compressor Running. 
    Analisa : 
    Saat Cycle Gas Compressor tidak running. Potensinya powder di dalam reaktor akan settle. Dengan adanya bulk density meski E nozzle ada continues purge'nya. Berpotensi akan plugging karena tidak mampu untuk menyembur powder yang settle tersebut. Berbeda halnya ketika kompressor running maka posisi powder adalah mengambang sehingga lebih mudah untuk disebul oleh continues purge. 
    Begitu juga ketika mau membuka valve E nozzle, baiknya di buka ketika Cycle Gas Compressor sudah running. 
  • Refrigerant PE-2 hanya untuk cooler dari discharge second stage VRS. Sedangkan yang ke arah catalyst hold tank tidak dipakai alias terisolate. 
    Ke Hold tank akan dibuka untuk metalocene.
  • Sensing element yang dibutuhkan dari reaktor adalah sbb : 
    Pressure, Level, Weight, Density. Keempat parameter tersebut diperoleh dari E-nozzle. Kalkulasi pressure dari PDT di konvert ke Level, Weight, Density dan Pressure sebagai PV dari Pressure controller. 
    Parameter lain adalah Temperature. Ada dua macam yaitu bed temperature dan skin temperature. 
    Satu lagi parameter lain adalah flow transmitter model venturi. Akan dikonvert ke gas velocity. 
    Final elemen berkenaan dengan velocity ini yaitu IGV (Inlet guide vane) dari Cycle Gas Compressor. 
  • Pada kondisi reakor shutdown aktivitas di lapangan adalah sbb : 
    • Pertama : Stand by di CO area. Sampai semua parameter terkendali. Stand by barangkali butuh untuk inject CO manual. 
    • Kedua : tutup valve purger header percabangan dari line ethylene bila diperlukan. Begitu reaktor shutdown ethylene akan menutup dari ground floor. Saat yang sama Purge header akan diganti dari line HPN. Line Ethylene ini dimungkinkan akan dipakai untuk press purge dengan LPPN karenanya valve percabangan purge header dari arah ethylene perlu di tutup. Bila tidak ditutup HPN akan masuk ke line Ethylene karena pressurenya lebih besar. 
    • Ketiga : Pull out injection tube. Yah untuk meyakinkan tidak ada lagi kemungkinan katalis yang masuk ke reaktor. 
    • Keempat Line up Sparger : Tujuannya untuk menghabiskan sisa-sisa katalis di dalam reaktor perlu dijaga agar temperature tetap di operasionalnya. 
    • Kelima : Tutup valve E nozzle kecuali yang top (doom), valve purge header D nozzle, TEAL  Nozzle dan line PDS valve yang langsung ke reaktor (total empat valve). 
      Step keempat ini harus dilakukan sebelum Cycle Gas Kompressor di stop. Karena Purge header akan nutup/mati secara  langsung berbarengan dengan Cycle Gas Compressor. 
      Valve E Nozzle beserta paketnya ini, akan dibuka kembali ketika Cycle Gas Compressor sudah start/running. Ingat dibuka ketika compressor sudah kembali running. 
    • Keenam : Khusus untuk teal nozzle bila planningnya mau open man hole. 
      Maka teal line HPN yang ke arah teal nozzle harus dibuka secara maksimum dengan by pass line. Tanpa by pass secara default flow akan minumum karena melalui orifice. 

  • ##### Pada kondisi reactor start up aktivitas di lapangan adalah sbb : #####
    • Pertama : Vent to atmosphere untuk menghilangkan Oksigen.
      Karena oksigen tidak boleh dibuang ke flare. 
    • Kedua : Press up reactor ke 6 bar dan start Cycle Gas Compressor.
      Kemudian open sparger. 

      Kemudian Line up purge header oleh DCS. 
      Untuk keperluan leak test. Kemudian bisa dilakukan PDP atau flow purge dari DCS untuk mereduce moisture. 
      Leak test pertama pada pressure 12 bar dan temp 90 C
      Leak test kedua pada 24 bar dan temp 90 C
    • Ketiga :
      • Kill test 1 : Final element XV CO
      • Kill test 2 : Final element XV inlet Turbine
      • Kill test 3 : Final element XV inlet Cycle Gas Compressor and Blow down valve.
      • Pada saat kill 2 active Cycle Gas Compressor akan stop. Kemudian depress hanya sampai 11 bar saat kill 3. 
    • Keempat : 
      Setelah kill test selesai. 
      Restart Cycle Gas Compressor. 
      Hot flow purge pada pressure 4 bar. 
      Target sampai tercapai moisture less than 10 ppmV.
      Check dari point inlet cycle gas cooler. 
      Stroke Test PDS valve
      Take PDS drop to PPB oleh DCS
    • Kelima : 
      Isolate AA/GG, D Nozzle, E nozzle, Teal Nozzle sebelum stop Cycle Gas Compressor
      Stop Cycle Gas Compressor and depress to 0 bar
      Close steam Sparger
      Stop lube oil pump cycle gas compressor
    • Keenam : 
      De-blind seed bed
      Charging seed bed
      Seal Gas cycle Gas Compressor line up oleh DCS
      Blinding seed bed
    • Ketujuh : 
      Press up reactor
      Setelah 9 bar. Start Cycle Gas Compressor. 
      Open Sparger
      Open lagi AA/GG, Teal Nozzle, D Nozzle setelah start Cycle Gas Compressor. 
      Hot flow purge at 95 C sampai tercapai target moisture less than 5 mmpV. Check dari inlet cooler. 
    • Kedelapan : 
      Line up analyzer
      Insert injection tube
      Flaring feed stream selama 30 menit sampai satu jam
      Line up all feed stream ke Reactor kecuali recover liquid
      Teal packing (Press up line sampai reactor, stop at 25 bar, trip at 32 bar)

      Teal Passivation. 
      Teal Circulation no vent. 
      Depress reactor to 6.5 bar
      PDP reactor from 6.5 bar to 12 bar two times
      Depress again to 6.5 bar. 
    • Kesembilan : 
      Build up concentration
      Switch purge header to ethylene
      Line up CO
    • Kesepuluh : 
      Start inject catalyst
      Close sparger bila reaksi bagus. 
    • Aktivitas tambahan : 
      Start VRS Compressor
      Close drain and vent from VRS
      Start refrigerant Compressor. 


  • Note : Pada saat vacuuming dan oksidasi koneksi ke catalys feeder di poin yang sama yaitu di spare nozzle. Hanya saja line vacuuming dan oksidasinya berbeda. 
    Saat vacuuming Nitrogen dari arah dumping Catalyst dibuka untuk mencegah press menjadi minus. 
    Plant Air hanya dibuka crack, itu saja sedotannya sudah sangat kencang sekali. Press. dijaga di range 0.5 bar. 
  • Di line Cycle Gas  yang ke Turbine ada flow nitrogen yang terus menerus. Ini untuk menjaga agar di line tersebut tidak terjadi kondensasi. Line itu FT-1401 dengan PSV 1418

  • Point 2x penting VRS : 
    • Oil leaking through the crankshaft seal is led to the outside of the compressor through a leak oil pipe (7) into an oil collector bin. With the crankshaft seal working properly, the oil leakage should not exceed 3–5 drops per minute.

  • Blind List : 
    • Phase 1 : Feed Stream
    • Phase 2 : PDS
    • Phase 3 : Remaining Points. 

  • Blow Back manual E-Nozzle, prakteknya manual valve yang ke PDT tidak perlu ditutup. Kalo menurutku lebih baik info panel, kemudian tutup valve dan blow back biar lebih optimal. 

  • Drill E-Nozzle : Tidak ada yang istimewa. Langkah-langkahnya sbb : 
    • pertama Connect drill ke E-Nozzle
    • Open manual vavle Dari E-Nozzle kemudian Close, lakukan pdp beberapa kali untuk menghilangkan oksigen. 
    • Open manual valve dari E-Nozzle langsung drill. 

  • Dry Catalyst Trouble Shooting : 
    • Permasalahan yang ada terdeteksi dari DP mulai naik. Bisa diakibatkan oleh beberapa hal : 
      • Injection tube plug. 
      • ada sebagain catalyst yang masuk di area PDI. 
      • Adanya plug di area pick up block.
      • Adanya plug di area square block. (Meskipun secara nalar, harusnya ini tidak berpengaruh terhadap DP)
      • Adanya kebocoran di area tubing atau konektornya. 
    • Solusi : 
      • Cabut injection tube. Check ada plug atau tidak. 
        Injection tube dikatakan normal (tidak plug) dengan kriteria sbb :
        - ketika dicabut HPN flow terbaca over range. 
        - FV OP akan membuka 100 %, untuk memenuhi flow normal sekitar 15 nm/hr. 
      • Blow back PDT. 
      • Check Sequare block vent, bila vent line block perlu dibongkar. 
      • Kadang perlu di check pick up block, apakah ada yang plugging di area itu. 
    • Step-step mencabut injection tube : 
      • Info panel untuk stop sequence
      • tutup manual valve diatas valve G
      • Mulai cabut injection tube, sampai tanda spidol terlihat. 
      • Tutup three way valve
      • Buka vent line. 

  • Step-step Deaktivasi : 
    • Nitrogen + Air selama 1 jam
    • PDP cat feeder dengan nitrogen + air sebanyak 10 kali (0 - 3.4 bar)
    • Pure air flow only selama 10 menit sampai 30 menit. 

  • Step Vacuuming : 
    • Vacuuming secara default pressure akan menjadi minus. Situasi ini kurang efekif, untuk lebih efisiennya diberi flow nitrogen dari arah dumping line. 
      Pressure dijaga sekitar 0 sampai  0.5 bar

  • Dumping Catalyst : 
    1. Depress Catalyst Feeder sampai 3.5 bar. 
    2. Connect Line dumping ke Empty Cylinder. Pastikan sudah dilakukan Oksigen Free dengan menggunakan Nitrogen dari ground Floor. 
    3. Press Up Empty Cylinder untuk mencegah Oksigen masuk ke dalam Cylinder. 
    4. Connect Empty Cylinder ke Vent Filter. Jangan lupa dilakukan Oksigen free area hose.
    5. Line Up dumping system ke empty cylinder. Buka Nitrogen yang ke Cat feeder untuk menjaga press tetap di 3.5 bar. 
    6. Tunggu sampai habis via side glass. 
    7. Isolate system dan disconnect hose.

  • Drill E-Nozzle : 
    • Remove plug
    • Connect drill
    • Oksigen Free dari Rx pressure
    • By pass manual blow back untuk membantu mendorong
    • Start Drill E Nozzle
    • Tarik Drill dari E Nozzle
    • Isolate valve terakhir E Nozzle
    • Cabut Drill
    • Venting

##################
Reactor Pressure Philosophy
##################

Sensing element untuk control Pressure Reactor adalah PT 0494. 
Sensing element ini akan dipakai oleh 3 controller berbeda. 
Kesemuanya untuk mengontroll pressure di Reactor. 
  1. Total Reactor Pressure Control (440PC0494)
      PC-0494 memberi signal ke FC 0101. Signal dari PC-0494 akan diabaikan. 
       PC-0494 set in auto 
       FC-0101 set in cascade
       Ethylene Flow signal akan diteruskan ke beberapa controller : 
    - FY-0108 C/F/E : Comonomer flow ratio controller
    - FY-0121 : modifier RO
    - FY-0235A : T2 to Ethylene mas ratio controller
    - FY-0107H : H2 to Ethylene flow ratio controller
    - FY-3312 : Modifier D to Ethylene flow ratio controller
    • Sensing element : PT 0494
    • Final Element     : FV 0101 (Ethylene Flow Valve)

  2. C2 PP / Ethylene Partial Pressure Control (440PC0492)
     PC-0492 memberi signal ke FC-0101. Signal dari PC-0494 akan diabaikan. 
    • Sensing element : Hasil kalkulasi antara PT 0494 dan Analyzer C2H4.
      Controller ( PC 0492 ) memiliki dua sensing element. 
      Mengapa demikian ? Karena Pressure controll adalah alat untuk mengontrol pressure. 
      Sangat tidak mungkin bila mengambil PV / sensing element dari analyzer yang notabene unit satuannya adalah persen / %. Karena perlu dibuat suatu kalkulasi agar hasil pengukuran dari analyzer bisa berubah menjadi satuan pressure. 
      Dengan cara dikalkulasikan dengan Pressure Reactor / PT 0494. Hasilnya adalah Partial Pressure Ethylene / C2 PP. 
    • Final Element : FV 0101 (Ethylene Flow Valve)

  3. PC 0493 Reactor Overpressure Controller
    Berikut ini data dari Control Philosophy document : 
    This controller is provided to avoid reactor overpressure as in the controlling way by “ethylene partial pressure”, the reactor pressure will tend to float. If 440PAH0494 is active, 440PC0493 receives this signal and then 440FY0239 selects the highest signal from either 440PC0493 or 440FC0239 to control the vent to PPB. This controller 440PC0493 is not a standard PID type but a proportional only. The output is zero when the PV is equal to set point and is 100% when the PV is 0.981 bar above set point. In between performance is linear 
    • Sensing element : PT 0494
    • Final Element     : FV 0239 (Blow Off Line )
Final element FV 0239 diatur oleh dua controller berbeda. 

    • FC 0239 
      Flow control ini punya sensing element yaitu FT 02369
    • PC 0493
      Sensing elementnya sudah disebutkan diatas sebagai topik utama yaitu PT 0494 / Reactor Pressure. 

Antara FC 0239 dan PC 0493 disediakan sebuah selector dengan opsi OP yang lebih besar. 

Lebih jelasnya bisa dilihat pada diagram di bawah ini : 

 



#################
Reactor Temperature Control
#################


Dalam kondisi normal TC-1021 dan TC-0426 dalam kondisi auto mode. 
TC-1021 dalam kondisi normal tidak masalah meski di set di mode manual. Karena baik di mode auto atau manual controller ini tidak akan berfungsi. 
Yang punya OP lebih besar akan mengendalikan final element. 

Saat reactor stop. 
TC-0426. 
di-karena-kan total catalyst di-nolkan. Maka temperature akan turun drastis. 
OP akan mengecil untuk mempertahankan temperature. 
Ketika PV sudah lebih rendah dari SP, padahal OP sudah turun maksimal sampai nol persen. 
Terecord pada tanggal 26 July 2025. 
PV-TC-0426 terendah menyentuh 81 drajat celcius, dengan SP: 106 drajat. OP sudah = nol persen.

Action dilapangan dibuka steam sparger. 
Saat steam sudah mulai masuk dengan flow 4 t/hr. 
TC-1021 di set di auto dengan SP = 88 drajat celcius.
Saat flow steam menyentuh 11 T/hr. 
TC-0426 di switch ke manual mode dengan OP=nol persen. 

TC-1021 mengambil alih final element TV-0426 A/B. 
Perlahan temperature reactor dikondisikan pada 98 drajat celcius. 

Saat mulai start up. Catalyst masuk. Dan reaksi telah terjadi. Ditandai dengan Temp reactor terus naik mencapai 101 drajat. Dari sini sudah yakin bahwa sudah ada reaksi. 
Karena Temperature Cycle water maksimal dijaga di 98 drajat. Untuk menghindari penguapan dari cycle water. 
Bila di reactor tidak terjadi reaksi tidak mungkin reactor mengalami kenaikan temperature melebihi temperature dari cycle water yang maksimal sebesar 98 drajat itu.
Kemudian Langkah selanjutnya adalah sbb : 

TC-1021 dan TC-0426 semuanya di set di auto. 
TC-1021 SP : 98 drajat, PV : 97 drajat. OP : nol
TC-0426 SP : 101 drajat, PV : 101,81 drajat. OP : 6 persen
Otomatis TC-0426 akan mengambil alih karena OP'nya lebih besar. 

Pada kondisi ini semua sudah berjalan normal. Tinggal menaik-kan rate reactor sesuai target. 

Tambahan : 
TC-1021  
  • Sensing element  : TT-1021 (Cycle water temperature)
  • Final element      : TV-0426 A/B (Cooling Water Return Valve)
TC-0426
  • Sensing Element : TT-0426 (Reactor Temperature )
  • Final Element      : TV-0426 A/B (Cooling Water Return Valve)
Dengan kata lain kedua controller di atas memiliki sensing element yang berbeda dengan final element yang sama. 

##################
Condensing mode VS Dry mode
##################

Di dalam reactor ada dua inert yaitu nitrogen dan ICA. 
Keduanya masuk dalam kalkulasi analyzer tetapi tidak ikut bereaksi. 
Konsentrasi gas terbanyak di dalam reaktor yang terbaca oleh analyser adalah sbb : 
  • Dry Mode : Reactor menggunakan light gas inert. 
    • C2 = 65 %
    • N2 = 25 %
    • ICA = 4 %
  • Condense Mode : Reactor menggunakan heavy gas inert. 
    • C2 = 66 %
    • N2 = 17 %
    • ICA = 11 %
IGV berbeda dengan SGV :
IGV = Inlet Guide Vane Cycle Gas Compressor. Dicontrol dari 440-HC-0233. Display PE2440D10201 (PE2 Reactor index : CG Compressor = CG Comp & Turbine).
SGV = adalah hasil kalkulasi antara Cycle Gas Flow dan computer factor. 
    = Secara harfiahnya SGV adalah kecepatan dimana fluida (yaitu gas/cairan) melewati suatu objek. 
    = Rumusnya SGV = T/A
               SGV = kecepatan dari fase tertentu (m/s) (meter/detik)
                 T = laju aliran volume fase Meter kubik/detik
                 A = penampang pipa meter kuadrat

Pemahaman saat ini : 
IGV dapat dicontrol punya set point. 
SGV hanya reading saja yang merupakan hasil kalkulasi. Untuk menaik-kan atau mengurangi harus menggunakan parameter lainnya. 


Secara SOP Pindah dari ICMO ke EDMO : 
1. Cut of Fresh ICA and recover liquid to reactor. 
2. Cut Catalyst 50 % wait until 5 % condensed
3. RO kill the reactor to get out of condensing

Aktual praktek : 
1. Reduce total catalyst dari 9 kg/hr ke 2 kg/hr. 
2. Berbarengan dengan no.1, reduce ICA and recover liquid. Flaring from last manual valve. 
   - ICA control valve OP 0 %
   - Flaring recover liquid from last manual valve
3. RO kill OP 440-FC-0121 100 % for 5 minutes



Philosophy Condensing mode dan dry mode : 
  • Condensing mode : 440-TI-0446 (Temperature outlet cooler/inlet reactor) vs Dew Point. Dew point inlet gas reactor temperature lebih tinggi dari pada TI-0446.
    Dengan kata lain saat memasuki reactor gas diubah dalam bentuk droplet liquid. Sehingga bisa main di rate tinggi karena droplet tersebut akan mendinginkan reactor secara lebih efektif.
    Yang bisa diubah ke bentuk droplet adalah fraksi berat yang tidak ikut bereaksi. Hanya bertugas untuk dijadikan droplet dan meremove lebih banyak heat di dalam reactor. 
Fraksi berat itu adalah ICA. 

 

  • Dry Mode : Inlet gas reactor temperature (TI-0446) lebih rendah dari pada Reactor Dew Point. Dengan kata lain dry mode adalah reactor gas dibuat kering tanpa droplet. Sehingga hanya bisa main di rate yang rendah.
    Berhubung droplet gas berasal dari fraksi berat yaitu ICA. Maka sudah jelas ICA harus diremove. Sehingga droplet gas tidak terjadi. 
Bagaimana caranya ?
  • Condensing mode dari dry mode : 
    • 1.  ICA control valve dinaik-kan untuk menambah jumlah ICA di reactor. Ketika ICA naik kita sudah punya amunisi yang bisa dijadikan menjadi droplet. Efeknya dew point temperature akan naik.  

 Efek lainnya naiknya ICA akan menjadi gas reactor semakin berat yang artinya SGV/kecepatan gas akan turun. Ketika kecepatan gas turun residen time contact dengan cooler naik, sehingga temperature turun. 

  • 2.  Total Catalyst dinaik-kan. Saat dinaik-kan jumlah ethylene rate akan ikut naik. Ketika Ethylene naik, gas akan menjadi semakin berat. Efeknya SGV (Kecepatan gas) akan semakin turun lagi dengan lebih maksimal. 

Ketika SGV/kecepatan gas turun, residen time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih lama. Efeknya adalah temperature inlet reactor akan turun dengan lebih maksimal.
 Dari action 1 dan 2 akan tercapai dimana dew point temperature akan lebih tinggi dari pada temperature inlet reactor. 
 Untuk menjadikannya lebih optimal perbedaan dew point temperature vs temperature inlet reactor perlu dilakukan action lanjutan.

  •  3, IGV diturunkan. Efeknya SGV/kecepatan gas akan makin turun lagi. Efeknya residen time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih lama lagi. Efeknya temperature inlet reactor akan semakin turun. 
 Targetnya adalah Nilai Dew Point temperature - inlet reactor temperature = 7-10 drajat celcius.  
 
  •  4. ada step satu lagi yaitu menurunkan RO dengan tujuan meningkatkan aktivitas catalyst. 

      • Dry mode dari condensing mode : 
        • 1. Total catalyst diturunkan dengan drastis. Dari trending tanggal 14 desember 2025 dari total 10 kg ke 2 kg per hour. Efeknya Ethylene rate akan turun. Ketika ethylene turun, gas akan semakin ringat. Efeknya SGV/kecepatan gas akan naik. 
Saat SGV/kecepatan gas naik, residence time gas saat melewati cooler akan menjadi lebih cepat. Efeknya adalah temperature inlet reactor akan menjadi naik. 
Saat SGV/kecepatan sudah mulai naik. Masih ditambah lagi IGV (Inlet Guide Vane) Cycle Gas Compressor dinaik-kan. Efeknya SGV tambah naik lagi. Sehingga kenaikan temperature inlet reactor semakin optimal. 
Hanya saja kenaikan temperature ini akan terbatas karena reaksi di dalam reactor juga berkurang. 
Karenanya musti dimaksimalkan dari segi penurunan temperature dew point inlet reactor dengan cara sbb : 
  • 2. Bersamaan dengan action no. 1 dilakukan ICA removal dengan cara stop supply ICA ke reactor Output control valve ICA dibuat nol persen. Masih dibarengi dengan flaring recovery liquid dan manual valve yang ke cycle gas di tutup.
Efeknya droplet gas akan menjadi berkurang dan hilang karena amunisi yang bisa dirubah yaitu ICA sudah tidak ada. Secara otomatis dew point temperature akan menjadi turun sangat drastis.
Dew point temperature turun artinya kemungkinan untuk terjadi droplet kecil bahkan tidak mungkin, karena reactor inlet temperature lebih tinggi. 
Action yang terakhir yang dilakukan adalah :  
  • 3. RO kill : yaitu output control valve RO dibuat 100 % open selama 5 menit. Hal ini berfungsi untuk menonaftifkan catalyst. Efeknya dengan memastikan catalyst non aktif seteleh total catalyst diturunkan secara extreme. Maka ada dua efek yang ditimbulkan. Pertama ethylene flow akan turun drastis. Berkurangnya flow ethylene memberi efek kenaikan temperature krn fresh ethylene berkurang. Kemudian efek yang lain dengan berkurangnya ethylene gas akan menjadi lebih ringan, bila gas lebih ringan kecepatan akan semakin tinggi. Bila kecepatan semakin tinggi residen time akan semakin cepat sehingga temperature reaktor inlet akan naik.   
Ketika Dew point inlet reactor sudah lebih rendah dari pada TI-0446 maka saat itu reactor sudah memasuki dry mode.   


NOTE : Dew Point Reactor = Merupakan hasil kalkulasi dari bacaan analyzer dan Reactor Pressure. 



Project File, update tgl 30 Mei 2025 :
Sohar, Oman
Simon Dinomo




Gambarku Purification .... !



Purification overview : 

Note : 
  • Semua liquid phase ( ICA, Hexene, Peroxide dan Butene) memiliki arrangement Regen outlet yang sama. Yaitu terdiri dari tiga fasilitas utama : 
    • Fasilitas Drain kembali ke Surge Drum. Kecuali ICA dia punya dua opsi drain kembali ke Surge Drum atau kembali ke Day Tank. 
    • Fasilitas langsung ke HFL. Pada saat Preload atau Depress step. 
      Preload dan depress masing - masing memilik line tersendiri dengan orifice yang berbeda. 
      Baik line Drain dan HFL, berada di downstream orifice tersebut. 
    • Fasilitas Regen Outlet Sirkulasi ( kembali ke system compressor beserta loopnya)
  • Pada gambar di atas skema aktual Regen outlet mengikuti gambar dari Butene Dryer. Untuk yang lain disederhanakan karena faktor space dari area gambar di kertas. 
  • Untuk yang berbentuk gas ( Ethylene ) regen outlet hanya terdiri dari satu fasilitas saja. Yaitu ke Regen outlet Loop sirkulasi. Mengingat volumenya yang besar Regen untuk ethylene hanya dengan system loop. Di upstreamnya diberi fasilitas satu orifice untuk depress step. 
    • Ethylene Dryer A dan B bergabung jadi satu dan punya satu orifice untuk depress step.
    • Ethylene De-Oxo dan CO-removal jadi satu dan punya satu orifice untuk depress step. 
Regen Compressor Aktual Layout : 







Ethylene Preheater dan Interchanger Aktual Layout : 



Hal yang ingin aku update dari system ini adalah short circulation dan long circulation dari masing - masing monomer. 

Summary : 
  • Butene : 
    • Outlet dari Guard filter ada 4 opsi : Ke RX-1, RX-2, PP, Dan balik ke Butene Degassing.
    • Yang ke Butene Degassing akan bergabung dari discharge Comonomer Pump.
    • Komposisi tersebut memungkinkan untuk :
      • Short circulation dari Degassing ke Butene Surge Drum lanjut ke pompa balik ke Degassing Column
      • Long Circulation dari Degassing ke Butene Surge Drum lanjut ke pompa lanjut ke Butene Dryer lanjut ke Guard Filter balik lagi ke Degassing Column. 
    • Satu lagi fasilitas yang dimiliki oleh semua monomer system : 
      Yaitu fasilitas untuk mengembalikan ke Ethylene Cracker. Dari Pompa ke BL. 

  • ICA :
    • Outlet dari Guard Filter ada 3 opsi : Ke RX-1, RX-2 dan Balik ke ICA Degassing. 
    •  ICA punya Day Tank  dan ICA System memiliki Opsi Circulation sbb :
      • Dari Day Tank ke Feed Pump ke Degassing ke Surge Drum ke pompa ke Day tank. 
      • Dari Day Tank ke Feed Pump ke Day Tank via min flow.
      • Dari Day tank ke Feed pump ke Degassing ke Surge Drum ke Pompa ke Degassing.
      • Dari Degassing ke Surge Drum ke Pompa ke Dryer ke Guard Filter ke Degassing. 
    • Opsi mengembalikan ICA ke Ethylene Cracker : 
      • Untuk material monomer yang berada di ICA Surge Drum dikembalikan dulu ke Day Tank dengan cara sbb : Dari ICA Surge Drum ke pompa ke ICA Day Tank
      • Untuk material monomer yang berada di ICA Day Tank bisa dikembalikan ke ethelene Cracker dengan cara sbb : Dari ICA Day Tank ke Pompa balik ke Battery Limit.

  • Hexene : 
    • Hexene paling complicated diantara monomer yang lain. 
    • Outlet dari Guard Filter ada 3 opsi : Ke RX-1, RX-2 dan balik ke Hexene Degassing Column. 
    • Opsi Circulasi ada banyak dan paling banyak :
      • Dari Day Tank ke pompa ke day tank (via minimum flow )
      • Dari Day Tank ke pompa ke Peroxide Removal ke Day Tank.
      • Dari Day Tank ke pompa ke Peroxide Removal ke Hexene Degassing Column Ke Hexene Surge Drum ke pompa ke Day Tank.
      • Dari Day Tank ke Pompa ke Peroxide Removal ke Hexene Degassing Column ke Hexene Surge Drum ke Pompa ke Degassing Column. 
      • Dari Day Tank ke Pompa ke Peroxide Removal ke Hexene Degassing Column ke Hexene Surge Drum ke Pompa ke Dryer ke Guard Filter ke Degassing. 
    • Opsi mengembalikan Hexene ke Ethylene Cracker : 
      • Untuk material monomer yang di Surge Drum dikembalikan dulu ke Day Tank. 
        Dari Surge Drum ke Pompa ke Day Tank. 
      • Untuk material monomer yang dari Day Tank bisa langsung dikembalikan ke Cracker. Dari Day Tank ke Pompa ke Battery Limit. 


  • Lay Out Special : 
    • XV dan valve preload untuk Butene dan Hexene dryer berada di atas ICA degassing. Sampingan dengan XV untuk drain ICA dryer. 
    • Drain line dari ICA Dryer berada di atas ICA Degassing. Jadi satu dengan line HFL, sebelum valve ke HFL header ada percabangannya. 
      Sedang line 1 inch yang di ground floor itu adalah line balik ke Day Tank. 
Update 31 May 2025
Liwa, Oman
Simon Dinomo